Pakar Hukum Ingatkan Pembahasan RPP Kesehatan Jangan Tergesa-gesa seperti Kejar Target

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang saat ini sedang berlangsung, mendapat perhatian khusus dari para pemerhati hukum.

Pasalnya pembahasan RPP tersebut dinilai terburu-buru tanpa memberikan ruang partisipasi publik yang berarti.

Pengamat hukum Universitas Trisakti, Ali Rido memberikan beberapa catatan terkait penyusunan RPP Kesehatan.

Pertama, RPP Kesehatan tidak boleh disusun secara terburu-buru untuk mengejar target, dan tidak boleh sembrono.

Baca juga: Hari Ini, Ketum PSI Kaesang Pangarep Temui Puan Maharani dan Ketum PBNU Yahya Cholil

“Kedua, kembali pada putusan MK Nomor 91 Tahun 2020 untuk memenuhi meaningful participation atau melibatkan semua entitas yang akan terdampak dari hulu ke hilir. Semua pihak harus terlibat langsung untuk dimintakan pendapat,” kata Ali berdasarkan keterangannya pada Kamis (5/10/2023) malam.

Dalam penyusunan RPP Kesehatan, Ali menilai perlu keterlibatan berbagai entitas yang terdampak untuk dimintai pendapat dan masukan terkait arah ideal dari aturan turunan ini.

Jika dianggap tidak tepat dari segi politik hukum pemerintah, maka pemerintah patut memberikan alasannya menolak masukan itu.

Baca juga: Invitasi Mahasiswa Cabor Permainan di DKI jadi Ajang Pengembangan Bakat dan Sportivitas

Tembakau Harus Diatur Terpisah

Ali juga menyatakan, pengaturan RPP yang terpisah akan mempermudah jika ke depannya diperlukan revisi aturan tertentu.

Terutama aturan yang bergerak secara dinamis seperti pengaturan zat adiktif, seperti tembakau.

“Ketika itu diatur secara terpisah, tentu lebih elastisitas jika nanti terjadi perubahan. Cukup mengubah satu saja misal PP terkait pengamanan zat adiktif.Yang terpenting kalau kita kembali pada putusan MK Nomor 91 Tahun 2020 tentang meaningful particitpation maka perizinannya akan memenuhi syarat putusan tersebut,” katanya.

Baca Juga  Bermanfaat Bagi Bangsa Indonesia, Prabowo Subianto Tegas Bakal Lanjutkan Legasi Jokowi

Ali menambahkan bahwa mengatur zat adiktif dalam RPP Kesehatan adalah langkah yang tidak tepat.

Mestinya semua hal yang ada di dalam RPP Kesehatan merupakan komponen yang terkait langsung dengan transformasi kesehatan nasional, bukan pada tataran pendukung, makanya pasal-pasal yang tidak terkait langsung seperti pengaturan zat adiktif, mesti dikaji ulang posisinya dalam RPP Kesehatan. 

Pada kesempatan terpisah pakar Perundang-undangan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Fitriani Ahlan Sjarif juga menyoroti aspek partisipasi publik dalam proses penyusunan aturan turunan dari UU Kesehatan.

Jika partisipasi publiknya belum cukup, Fitri menilai efektivitas pembuatan aturan tersebut akan kurang memadai.

“Harus dipertimbangkan efektivitas pembuatannya sehingga diharapkan tidak menimbulkan kontroversi ketika diberlakukan dan tidak diragukan penerimaannya oleh publik,” kata Fitri. (faf)

Baca berita Wartakotalive.com lainnya di Google News.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *